atjehcyber menubar

atjehcyber tickhead

atjehcyber thumbkanan

atjehcyber stick

#TAGatjehcyber Home /

Bagaimana Mencari Petunjuk Kehidupan di Luar Planet?

By Atjehcyber.net on 5/18/2014 | 13.30


Dalam 20 tahun semenjak eksoplanet berhasil dideteksi, astronom terus mencari planet saudara kembar Bumi yang sedang mengorbit bintang lain. Impiannya tetap sama: menemukan planet habitat baru.

Kalau memang mencari planet "Bumi yang lain", maka tentu yang diharapkan adalah planet dengan air yang berlimpah, gas oksigen dalam jumlah besar dan klorofil atau sesuatu yang serupa dengan klorofil.

Mengapa air, oksigen dan klorofil penting? Kalau manusia ingin menemukan kehidupan seperti yang dikenal di Bumi maka tentu yang harus dicari adalah tanda-tanda dari komponen pendukung kehidupan yang ada di Bumi. Tanpa mengenali komponen penting yang mendukung kehidupan di Bumi di planet asing itu, bagaimana kita bisa tahu dan menebak bahwa disana mungkin ada kehidupan?

Karena itu para astronom saat ini masih fokus mencari planet yang bisa mendukung keberadaan lautan atau air dalam wujud cair di permukaan planet.

Beberapa planet laik huni berdasarkan lokasinya di area laik huni bintang memang sudah ditemukan. Dan diyakini masih ada banyak planet kebumian yang berada di area laik huni bintang yang belum terdeteksi.

Namun ada pertanyaan lain. Seandainya suatu waktu kelak manusia menemukan planet serupa Bumi mengorbit bintang lain dan di sana ada air, oksigen dan klorofil, bagaimana para astronom bisa mengenali ketiga tanda pendukung kehidupan tersebut?

Timothy Brandt dan David Spiegel dari Institute for Advanced Study at Princeton University, New Jersey melakukan penelitian dan pemodelan untuk mengenali kehadiran komponen-komponen pendukung kehidupan tersebut di masa depan saat teleskop diarahkan pada planet yang jadi kembaran Bumi.

Para astronom juga menyadari bahwa molekul seperti air, oksigen dan ozon memiliki efek pada cahaya – ketiganya menyerap cahaya pada panjang gelombang antara 500 - 1000 nanometer (dari hijau ke dekat inframerah). Molekul-molekul tersebut merupakan penyerap yang paling menonjol di rentang spektral tersebut, sekaligus juga merupakan tanda penting yang bisa memberi petunjuk kehidupan kebumian.

Selain itu, pada area 1 - 4 mikrometer, spektrum Bumi didominasi oleh fitur serapan air dan beberapa fitur lebar yang tumpang tindih yang dihasilkan oleh karbon dioksida dan metana. Seandainya saja ada exoplanet yang serupa Bumi, maka cahaya bintang yang dipantulkan permukaan planet akan memiliki tanda dari gas tersebut.

Untuk bisa mengatahui apakah tanda-tanda kehadiran air, oksigen dan ozon bisa dideteksi atau tidak, Timothy Brandt dan David Spiegel membangun pemodelan yang bisa menunjukkan bagaimana cahaya akan dipantulkan dari permukaan planet serupa Bumi tersebut.

Untuk kebutuhan pemodelan, dibangun studi kasus untuk planet dengan beberapa kondisi. Yang pertama adalah planet es dan padang gurun sedangkan model lainnya adalah Bumi dengan daratan, vegetasi dan lautan. Pada kedua model tersebut, diterapkan juga studi perbandingan jika keduanya diliputi awan yang menutupi 50 persen permukaan planet dan planet tanpa awan.

Dari kedua model tersebut, mereka bisa menghitung efek yang ditimbulkan molekul-molekul tersebut pada spektrum pantulan cahayanya.

Hasil pemodelan yang dilakukan ternyata sangat menarik. Air menjadi molekul yang paling mudah dikenali. Tapi agar teleskop landas angkasa bisa mengenalinya, dibutuhkan kemampuan untuk mengatasi kontras antara planet dan bintang induknya. Teleskop juga harus mampu untuk mengenali spektrum pantulan dari planet dan bisa memisahkannya dari pita serapan air. Untuk bisa mengenali air, teleskop landas angkasa yang ada sata ini sudha memiliki kemampuan tersebut.

Kalau air mudah dikenali, tidak demikian dengan oksigen. Perhitungan Timothy Brandt dan David Spiegel menunjukan kalau astronom membutuhkan teleskop landas angkasa yang memiliki kemampuan lebih baik dari yang ada sekarang. Selain itu, untuk bisa mendeteksi oksigen juga dibutuhkan kemampuan 3 kali lebih baik dari pendeteksian air.

Yang lebih susah lagi adalah untuk mengenali klorofil. Spektrum yang dipantulkan Bumi mengandung "tepi merah" yang dihasilkan oleh penyerapan cahaya merah oleh kloforil. Pertanyaannya, apakah molekul serupa klorofil bisa bekerja pada panjang gelombang yang berbada?

Jika tidak, maka tanda keberadaan klorofil akan sangat sulit dikenali dan untuk itu, perancangan misi masa depan harus lebih sensitif untuk mengenali klorofil asing di dunia baru.

Menurut Timothy Brandt dan David Spiegel, perancangan misi masa depan harus dimulai dari pencarian air dan oksigen pada planet-planet yang punya kemiripan dengan Bumi dan pencarian klorofil akan menjadi pekerjaan rumah bagi misi di masa depan. (*/ng-id)

KOMENTAR
DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

atjehcyber com bigbox